Opini

Jangan selalu merujuk ke pendidikan Finlandia

Akhir-akhir ini di timeline facebook saya banyak berseliweran tentang dunia Pendidikan. Jujur saya sendiri senang sih selain karena ternyata banyak yang (agak) peduli dengan pendidikan, timeline saya juga jadi lumayan bersih dari hal-hal berbau SARA 😋.

Nah dari para orang yang mulai posting tentang pendidikan banyak yang suka menyongsong tinggi pendidikan di Finlandia. Seperti jam belajar yang sedikit (5 jam), tanpa ada tugas rumah, dan tidak ada ujian Nasional. Memang saya sendiri senang sekali dengan kehebatan pendidikan di Finlandia, cuman kenapa banyak dari orang Indonesia cuman bilang “contoh seperti Finlandia yang bla… bla… bla…” tetapi suruh terjun ke dunia pendidikan tidak mau.

Memang benar mudah menilai orang lain tapi sulit menilai diri sendiri, pernahkah terfikir bahwa Finlandia sendiri tidak instan membuat sistem pendidikan seperti saat ini? Fasilitas memadai, dukungan dari negara, guru yang “super”, serta kemungkinan lain yang tidak dimiliki oleh negeri ini?

Dulu pas sekolah salah satu guru pernah bilang ke saya 5 tahapan yang akan dilalui oleh seseorang yaitu DIPAKSA – TERPAKSA – BISA – BIASA – KEBIASAAN. Jadi, mengapa pendidikan Finlandia saat ini bagus? Karena sudah kebiasaan dan didukung oleh lingkungannya. Sedangkan Indonesia? Banyak sekali ditemui “Mau ngapain kamu sekolah kalau ujung-ujungnya cuman jadi pembantu?”.

Lingkungan adalah hal yang penting untuk bisa menciptakan suatu karakter seseorang. Maaf bukan rasis, tetapi teman-teman pernah dengar tidak bahwa orang dari suku Batak rela mengorbankan hartanya demi pendidikan yang baik? Dan itu yang terjadi atau yang dialami oleh saya sendiri. Keluarga saya baik dari Ibu atau Bapak bukanlah orang yang super kaya, bahkan di rumah Bapak saya toilet saja tidak ada. Namun demi sekolah si orang Tua rela ngapain ajah termasuk tidak “bergaya”.

Ini bukan berfikir negatif tetapi saya coba membayangkan jika di Indonesia gaya belajarnya mengikuti Finlandia. Siswa pulang lebih awal maka mungkin cenderung bermain kesana kemari. Tidak ada Ujian nasional maka mungkin siswa tidak akan ada target dan belajar semaunya. Tidak ada tugas rumah… hmm kalau ini memang plus minus sih. Di sisi lain saat belajar memang perlu banyak latihan, tetapi di sisi lain terkadang banyak tugas yang diberikan membuat siswa stres.

Nah jadi bagi saya tidak “etis” lah membandingkan sistem pendidikan antara Indonesia dengan Finlandia karena adanya perbedaan budaya dan lain-lain.  Di mereka sekolah gratis di kita? Harusnya gratis kalau tidak *sensor*.  Nanti kalau infrastruktur, kualitas guru, dan fasilitasnya telah sama baru bisa dibandingkan 😬.

Oh yaa Finlandia memang salah satu contoh pendidikan terbaik di dunia. Ingat yaa salah satu berarti belum tentu selalu nomor 1, masih ada Korea dan Singapore yang belajar lebih extreme dari Indonesia. Kok bisa bertahan? Karena kebiasaan lingkungannya 😇.

NB : Dalam hati saya masih bertanya-tanya mengapa India yang katanya negara “nganu” tapi bisa menciptakan para pakar dan orang hebat di dunia? 😝

Artikel Terkait

Close