Jurnal

Menikmati Senandung Ibu Pertiwi di Galeri Nasional

Banyak orang bilang bahwa seni adalah sesuatu yang paling sulit dinilai karena setiap orang memiliki penilaiannya sendiri, dan saya sepakat dalam hal ini. Ketika menikmati sebuah karya seni, mood seseorang bisa langsung berubah saat itu juga. Ada banyak karya seni yang bisa kita nikmati sehari-hari namun tentu kita meinginkan untuk menikmati sebuah mahakarya seni dari para orang-orang hebat. Dan salah satu caranya adalah dengan datang ke Galeri Nasional menikmati koleksi lukisan Istana dengan tema Senandung Ibu Pertiwi.

Kebetulan hari ini (9 Agustus 2017) saya bersama teman-teman Blogger & Vlogger mendapat undangan dari Jadi Mandiri untuk berkunjung ke pameran koleksi lukisan istana di Galeri Nasional yang terletak di daerah Gambir. Di sini bisa dibilang kami mendapat kesempatan khusus tetapi tidak dikhususkan. Kesempatan khususnya adalah tidak usah registrasi karena sudah diregistrasikan oleh pihak Jadi Mandiri, walau sebenarnya registrasinya juga cukup mudah ?. Tidak dikhususkannya adalah walau sebagai tamu undangan dari Jadi Mandiri, kami tetap harus melewati penjagaan berkali-kali sama dengan pengunjung lainnya.

Sekedar informasi bagi teman-teman nanti yang mau datang ke sini, banyak peralatan yang tidak boleh masuk ke daerah utama. Saya yang hobi koleksi foto-foto dengan resolusi dan kualitas tinggi pun harus bersabar karena kamera jenis apapun (kecuali yang di handphone) tidak diperkenankan untuk di bawa ke ruangan utama. Untung saya hanya membawa mirrorless saja, padahal awalnya ingin bawa DSLR lengkap dengan lensa paling mahal yang saya miliki ?.  Peralatan lain yang tidak boleh masuk padahal lumrah untuk dibawa adalah alat tulis dengan alasan menghindari pengunjung “iseng” yang mencoret lukisan di sini.

Mungkin bagi teman-teman pengamanan seperti ini sedikit lebay, tetapi tidak kalau kita tahu apa yang ada di dalam galeri nasional ini. Lukisan yang dipamerkan pada acara ini 99% adalah lukisan asli yang diangkut khusus dari Istana Negara untuk diperlihatkan kepada masyarakat bahwa dalam hal seni lukis koleksi bahkan karya milik anak negeri memiliki nilai yang tinggi.

Awal masuk ke galeri kita akan diperlihatkan dengan sebuah lukisan monitor dengan tayangan sebuah lukisan yang berjudul Perkawinan Adat Rusia karya Konstantin Egorovich Makovsky. Mengapa hanya sebuah layar? Karena ukuran lukisan yang asli sangat besar sehingga menyulitkan untuk dibawa. Saya sendiri dulu sudah pernah melihat lukisan ini secara langsung ketika di Istana Bogor dan memang sangat besar jadi yaa wajar jika hanya ditampilkan dalam bentuk monitor saja.

Mulai masuk ke ruangan dalam Galeri Nasional saya disuguhkan dengan lukisan-lukisan bernuansakan alam yang tertempel di dinding berwarna hijau. Oh yaa ada 4 warna dinding pada ruangan bangunan utama ini yaitu hijau, merah, biru, serta abu-abu. Dan setiap warna memiliki arti sendiri yang disesuaikan dengan lukisan yang terpampang di sana. Hijau memiliki arti pemandangan alam, merah memiliki arti keseharian, biru memiliki arti kebaya (adat), dan abu-abu memilii arti mitologi ?.

4 bagian yang dibedakan dengan warna bisa dibilang merupakan sub tema dari tema utama Senandung Ibu Pertiwi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia senandung memiliki arti nyanyian atau alunan lagu dengan suara lembut untuk menghibur diri atau menidurkan bayi. Begitu juga dengan lukisan yang dipamerkan di galeri nasional ini, walau memiliki sub tema sendiri-sendiri tetapi keseluruhannya menciptakan harmoni yang halus dan lembut yang bisa menghibur diri para penikmatnya ?.

Salah satu koleksi yang secara C.E.R.I.T.A menarik perhatian saya adalah lukisan karya pak Abdullah Suriosubroto yang berjudul Pemandangan Di Sekitar Gunung Merapi yang tampak seperti gambar di bawah ini

Senandung Ibu Pertiwi
Pemandangan Di Sekitar Gunung Merapi

Bagaimana pemikiran sekilas teman-teman tentang lukisan tersebut? Kalau saya sendiri sih awalnya tidak menyadari sampai mbak-mbak cantik yang sebagai pemandu bahwa lukisan ini merupakan asal-usul dari karya menggambar paling fenomenal di Indonesia. Masih ingatkah teman-teman bahwa ketika kecil dulu ketika tugas menggambar kita selalu menggambar gunung, lalu ada sungai ditengah, dan kanan kiri diisi dengan sawah. Nah awal mula teknik gambar yang kita gunakan ketika masa kecil (bahkan anak saat ini) terinspirasi dari lukisan pak Abdullah Suriosubroto ?.

Banyak lukisan menarik di sini, tentu saja koleksi Istana Negara tentu bukanlah koleksi sembarangan. Cara kepemilikannya pun beda beda, mulai dari hadiah yang diberikan negara sahabat sampai permintaan khusus dari presiden kepada pelukisnya asli. Jadi benar-benar memiliki nilai atau kualitas yang unggulan. Inilah yang membuat saya merasa sangat beruntung diundang untuk datang ke acara ini.

Selain adanya lukisan koleksi Istana Negara yang berada di gedung utama, teman-teman juga bisa berkunjung ke gedung lain di daerah Galeri Nasional yang berisi karya seni rupa yang lain seperti pahatan, lukisan, dan benda seni lainnya. Tetapi kekurangan untuk koleksi di sini kebanyakan replika, yaa karena memang benda pahatan setahu saya lebih sensitif terhadap lingkungan. Namun saya sudah cukup terkagum melihat ada yang bisa membuat karya seperti ini dan bagi para pembaca saya sedikit spoiler  beberapa karya yang ada disini.

Rasanya saya ingin menulis detil dari semua lukisan dan karya lain yang saya lihat. Mulai dari judul, pemandangan, ukuran, dan yang terpenting adalah cerita dan makna tersirat dari lukisan tersebut, lumayan juga kan tulisan saya tambah banyak dengan melakukan ulasan pada setiap karya seni. Cuman bagi saya itu merupakan hal yang merugikan. Bagi teman-teman yang ingin berkunjung jadi tidak penasaran lagi dengan lukisan apa saja yang ada di Istana Negara atau karya yang ada di lingkungan Galeri Nasional. Bisa dibilang seperti kita ingin menonton film di bioskop tetapi sudah ada temen yang cerita duluan pffftt sebel banget kan rasanya ?. Nah tetapi ada salah satu tempat yang bagus untuk foto di lingkungan Galeri Nasional, yaitu dinding dengan gambar yang unik. Di akhir sesi kunjungan para Blogger, Vlogger, dan rekan-rekan dari Jadi Mandiri jelas tidak mau ketinggalan foto bersama di tempat keceh ini donk ?.

Yuk menikmat Senandung Ibu Pertiwi

Untuk teman-teman yang ingin menikmat Senandung Ibu Pertiwi seperti saya bisa datang langsung ke Galeri Nasional yang berada di wilayah Gambir. Kalau bingung patokan ke sini adalah Stasiun Gambir karena memang Galeri Nasional itu ada di seberangnya, dan tampaknya hampir tidak mungkin orang yang ada di Jakarta tidak pernah mendengar lokasi tersebut ?.

Pameran koleksi Istana Negara hanya dibuka sampai tanggal 30 Agustus 2017, jadi buat yang belum ke sini masih ada waktu untuk datang. Yaa sempatkan waktu untuk lihat-lihat koleksi ini, karena selain GRATIS kapan lagi bisa lihat koleksi hebat, kecuali kalau memang kalian punya orang dalam Istana ?.  Oh yaa karena setiap pengunjung wajib registrasi dan untuk mengantisipasi adanya ledakan pengunjung (ciyee ?) maka dari pengurus Galeri Nasional menyediakan jalur registrasi online yang bisa kalian akses di https://www.bek-id.com dan kalau kesulitan bisa lihat caranya disini.

Sebuah karya seni hanya bisa dinikmati ketika langsung melihat agar dapat merasakan apa yang ingin disampaikan oleh si pembuat karya, bukan apa yang diceritakan dari penikmat karya

Artikel Terkait

  • seni emang sulit dinilai ?
    bingung saya dengan orang orang yg beli lukisan hingga puluhan juta atau bahkan milyaran

    cuma lukisan aja yg di pamerin ya? sebenarnya enak sih kalo ngeliat galeri kalau pengunjungnya sepi jadi bisa berlama lama ngelihat detailnya

    • untuk di gedung utama iya hanya lukisan namun di gedung yang lain ada beberapa karya seni rupa yang lain kok… yuk ajak pacarnya ke sana

      • iya nih lagi usaha ngajakin pacarnya orang buat dipinjem bentar barangkali boleh

Close