Jasa konvensional kok masih marah yaa?

Pagi ini di beranda akun facebook saya banyak yang membagikan tentang kejadian semacam razia terhadap transportasi berbasis online. Di video tersebut sempat ada pengemudi GRAB yang seragamnya diambil dan dibakar di samping jalan. Kasus ini tampaknya akan selalu ada seiring dengan perusahaan transportasi berbasis online semakin membesar dan melakukan ekspansi ke kota-kota besar. Berarti ini tidak akan berhenti donk? ?

Saya mencoba mengingat masa kecil saya di Sukabumi, dimana untuk masuk ke sebuah gang ada berbagai macam kendaraan yang bisa digunakan. Di jalan yang agak terjal saya akan menemukan tukang ojek atau bahkan ada juga angkot. Ada juga wilayah Cimelati yang dimana ketika di gang saya akan menemukan andong. Tetapi seiring waktu kendaraan-kendaraan yang non-mesin tergantikan oleh kendaraan yang menggunakan mesin. Alasannya? Tentu karena selain lebih cepat biaya pun akan semakin murah.

Loh apa hubungannya dengan transportasi berbasis online? Dari cerita masa kecil saya ada 2 hal yang mengapa suatu hal bisa berubah yaitu karena Cepat & Murah. Begitu juga dengan transportasi berbasis online, mereka lebih cepat dan lebih murah, konsumen lebih banyak dimanjakan daripada menggunakan yang konvensional. Apalagi saat ini beberapa perusahaan sudah menerapkan sistem pesan langsung, dimana ketika bertemu driver kita bisa “langsung” naik sambil memesan. Jadi tidak usah lagi memesan lalu menunggu.

Beberapa waktu lalu ramai juga berita tentang Ramayana & Matahari yang mulai menutup gerai mereka di berbagai tempat. Begitu juga dengan toko-toko di Mangga Dua serta ROXY, mulai tutup dan mulai berbisnis dengan cara lain lagi. Karena kenapa? Lagi-lagi karena ada pelayanan yang lebih cepat dan lebih murah yang ditawarkan oleh perusahaan berbasis dijital.

Lalu bagaimana dengan teman-teman yang masih menjadi penyedia konvensional? Tetap akan konsisten atau berubah ke era dijital? Dahulu ketika era becak dan andong berjaya mereka tampaknya adem-adem saja dengan kehadiran ojek, bahkan banyak juga yang berubah menjadi tukang ojek. Lalu mengapa saat ini banyak yang ribut dengan alasan dirampas haknya?

Mungkin beberapa pembaca menganggap pendapat saya ini tidak memfikirkan orang-orang yang tidak bisa beradaptasi. Ketahuilah bahwa hampir semua lini kehidupan kita saat ini telah berubah dan kita tidak bisa menghentikan perubahan tersebut. Seorang penulis dulu membuat buku dan sibuk memasarkan produknya tetapi sekarang mereka lebih baik menjual buku elektronik. Seorang pemain musik memimpikan untuk masuk ke label rekaman agar terkenal, tetapi saat ini sudah ada YouTube dan JOOX yang bisa menjual & membuat mereka terkenal.

Tentu saja memang tidak semua orang bisa berubah yang penyebab utamanya adalah usia yang sudah senja. Tetapi bagi yang masih usia produktif bagaimana? Sebagai penyedia jasa tentu akan menyesuaikan dengan kebutuhan kustomer yang setiap hari makin terbaharui. Nah kalau saat ini masih ada tukang becak dan andong yang beroperasi di daerah yang sudah ada transportasi berbasis online berarti dia benar-benar percaya bahwa rejeki sudah ada yang mengatur ?

Perkembangan jaman tidak bisa menyesuaikan kepada seseorang, tetapi orang tersebutlah yang harus menyesuaikan dengan jaman

Rona Ariyolo

Seorang IT Infrastructure Enthusiast yang gemar berkecimpung di dunia pendidikan. Selain di blog aktif juga memberikan informasi di media sosial terutama instagram (story).

Artikel Terkait

Close