Pertama Kali Ikut Capture The Flag

Jadi ceritanya pada tanggal 29 April 2018 selama 1 hari penuh, mulai dari jam 00:00 – 23:59 saya mengikuti kompetisi Capture The Flag atau biasa disingkat dengan CTF. Kompetisi CTF yang saya ikuti ini merupakan salah satu rangkaian dari program Born To Protect yang menjaring para Gladiator Keamanan Siber. Program Born To Protect sendiri dibuat oleh Xynexis dan mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Komunikasi dan Informatik.

Bagi teman-teman yang tidak tau CTF itu apa jujur secara ilmiah (ūü§≠) saya juga tidak tahu arti dari CTF, tetapi intinya CTF itu adalah sebuah kompetisi bertajuk¬†cyber security.¬†Menurut informasi dari situs BLOG CISCO, CTF pertama kali diadakan pada tahun 1996 di acara DEVCON, sebuah acara keamanan siber terbesar di¬†Amerika Serikat.

Jadi apa saja yang dilakukan di CTF? Sesuai dengan namanya Capture The Flag atau dalam bahasa Indonesia menangkap sebuah bendera. Jadi kami para peserta diberikan berkas atau target yang harus dibuka dengan cara-cara tertentu yang benar-benar mengasah logika. Sebenarnya saya agak sungkan menyebutnya, tetapi untuk mempermudah memperjelas kepada pembaca yang budiman jadi mari kita sebut saja ini adalah kompetisi hacking untuk para hacker.

Tampilan halaman CTF Born To Protect

Di tampilan awal masuk saya diperlihatkan peta dunia bumi datar yang di setiap negara terdapat soal yang berbeda tipe dan tingkat kesulitannya. Beberapa kategori yang saya ingat yaitu Kriptografi, Web, SQL Injection, dan Programming. Cara pengerjannya pun beragam mulai dari mendeskripsi sandi-sandi, mengunggah sebuah berkas penyusup, sampai harus membuat program yang fungsinya untuk menjawab beberapa pertanyaan secara cepat.

Jujur kemampuan saya dalam ilmu seperti ini benar-benar dasar menuju hampir tidak ada. Memang secara latar belakang pekerjaan saya adalah seorang¬†System Administrator, namun untuk urusan keamanan khususnya¬†hacking seperti ini yaa saya mah seikhlasnya saja¬†ūüėÖ.

Kendala yang saya hadapi selama mengikuti kompetisi ini adalah INTERNET. Di kost saya memang ada fasilitas Internet, namun karena kamar saya berada agak jauh dari¬†Access Point membuat kecepatan di kamar saya benar-benar lambat. Satu minggu sebelum kompetisi saya sempat berlangganan Internet ke operator oranye namun tetap saja lambat. Beruntunglah saya mendapatkan kesempatan di tempat yang bernama Sarang Komodo, sehingga 8 jam pertama saya bisa mengerjakan soal dengan baik ūüėč.

Rona Ariyolo

Seorang IT Infrastructure Enthusiast yang gemar berkecimpung di dunia pendidikan. Selain di blog aktif juga memberikan informasi di media sosial terutama instagram (story).

Artikel Terkait

Close