Siswa Mencari Tempat Prakerin Sendiri? Salahkah?

Halo semuanya kali ini saya akan coba tuliskan opini saya yang didapat dari keseharian sebagai penjelajah internet. Bagi sebagian teman-teman mungkin sudah tahu yaa bahwa saya aktif di forum anak-anak SMK khususnya untuk kompetensi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan. Nah kali ini saya akan bahas tentang banyaknya anak SMK yang mencari tempat prakerin/magang/PKL di grup-grup facebook yang membuat saya agak “gemes”.

Sebagai seseorang yang pernah mengelola sebuah SMK selama 3 tahun saya cukup aneh dengan hal ini. Bukankah yang mencari tempat prakerin adalah salah satu tugas dari pihak guru (sekolah)? Sudah seharusnya ketika sebelum siswa prakerin atau bahkan ketika jurusan dibuka maka sekolah sudah bekerjasama dengan perusahaan. Kerjasama apa yang dilakukan? Kerjasama untuk penyesuaian kurikulum atau paling minim adalah kerjasama untuk prakerin.

Jadi ketika ada siswa yang mencari tempat prakerin saya cukup miris dan kesal sambil dalam hati mengucap “Ini guru dan tim kerjanya cuman ngajar ajah berarti yaa?”. Saya tahu mungkin ada sebagian guru yang bilang bahwa ini dimaksudkan untuk melatih siswa/i mereka dalam dunia yang sebenarnya. Saya paham akan hal ini namun mari kita bahas hal yang menarik lainnya.

Saya sedikit bercerita tentang anak rekan saya yang kesulitan mencari tempat Prakerin. Si anak menghabiskan waktu 2 bulan hanya untuk mencari tempat Prakerin dan sampai mendekati hari pelaksanaan si anak tak kunjung dapat tempat. Mengapa? Karena adanya standar perusahaan yang tidak cocok sampai ada juga perusahaan yang memang tidak menerima anak Prakerin.

Saya akan coba bahas tentang standar perusahaan yang tidak cocok dengan kemampuan anak. Tentu kita sudah mengetahui bahwa di setiap perusahaan memiliki pekerjaan dan standarnya masing-masing. Maksud saya adalah apa yang akan dia kerjakan nanti di perusahaan tempat prakerin, ini adalah hal paling fatal dan sering miss. Sebagai contoh Ketika ada siswa yang masuk ke ISP tetapi dia tidak kuat di ilmu Network maka bisa dibilang dia sedang mencoba bunuh diri. Inilah mengapa seorang guru yang harusnya mencari dan menentukan tempat prakerin siswa. Guru seharusnya paham bagaimana kemampuan siswa sehingga perusahaan pun tidak kecewa terhadap anak magang.

Permasalahan lain adalah siswa ditolak mentah oleh perusahaan karena tidak menerima anak Prakerin. Melempar jawaban di forum tentu akan mendapatkan hasil yang berbeda-beda dari setiap penjawab. Ada orang yang menjawab karena memang pernah mengalami Prakerin di perusahaan tersebut, ada juga orang yang memberikan saran dengan embel-embel Siapa tahu dan tampaknya. Jika siswa sudah terlanjur datang ke perusahaan dan ternyata ditolak apa kerugiannya? Yang jelas adalah waktu dan kemungkinan psikis dari anak tersebut yang goyang.

Mungkin memang ada beberapa guru yang melepas siswa untuk mencari tempat Prakerin yang cocok bagi mereka,  namun tentu dengan persiapan yang sudah matang. Artinya siswa tersebut sudah disiapkan secara pengetahuan, mental, dan juga referensi perusahaan yang sesuai dengan kemampuan mereka.

Ada hal yang menarik jika berbicara tentang pencarian tempat Prakerin. Sering saya temui beberapa siswa mencari tempat prakerin bukan karena sekolah tidak menyediakan namun karena mereka ingin Prakerin di tempat lain yang menurut mereka lebih keren. Untuk kasus yang ini tentu berbeda dengan yang saya bahas di atas yaa 🤭


Jadi? Inti dari tulisan ini adalah saya tidak mempermasalahkan siswa yang mencari tempat Prakerin sendiri karena keinginan dia, tetapi yang saya salahkan adalah guru yang beralasan karena tidak siap mengelola siswa/i-nya.

Close