Cerita

Pengalaman Meretas Ketika SMK: Proxy Untuk Akses Internet Siswa

Selama 2 hari ini saya membaca-baca berita tentang kenakalan siswa atau mahasiswa ketika masa sekolahnya dalam bidang “kejahatan” siber. Hal ini cukup menarik bagi saya karena ketika masa SMK dulu saya pernah juga melakukan hal yang dianggap “kejahatan siber” di peraturan sekolah.

Oh yaa saya berencana akan membagi cerita saya ini dalam 2 atau lebih bagian agar tidak terlalu panjang dan teman-teman tidak terlalu bosan membacanya. Karena saya menyadari artikel saya cukup membosankan untuk dibaca¬†ūüėÖ.

Aksi peretasan saya pertama ketika duduk di bangku SMK dulu adalah mengakses internet secara “ilegal”. Saya tidak tahu¬† bagi teman-teman apakah ini bisa dibilang meretas atau bukan tetapi bagi saya teknik ini adalah salah satu aksi meretas.

Kondisinya saat itu ada peraturan baru di sekolah yang dimana semua akses internet untuk siswa diblokir, saya tekankan SEMUA. Jadi baik itu laboratorium, kabel jaringan yang ada di kelas, sampai Wi-Fi semuanya diblokir. Hal ini membuat emosi siswa khususnya saya ketika mengetahui bahwa di ruang guru para dewan guru bisa menikmati fasilitas internet. Di sini saya jadi bingung, siapa yang harus lebih belajar dari internet? Guru atau siswa?

Satu hal lagi yang membuat saya dan teman-teman saya mencapai titik tinggi kemarahan (lebay deh ūü§≠) adalah sekolah membuka warnet dengan menggunakan laboratorium komputer. HAH? Sekolah yang jualan dengan nama sekolah IT tetapi siswanya harus membayar Rp 1.000/jam untuk mendapatkan akses internet? Waktu itu saya berfikir “Uang bayaran gue buat apa donk?“.

Berbekal semua hal yang kurang enak saya coba mempelajari teknik “pembobolan” untuk mendapatkan akses internet. Saya tahu siapa orang-orang yang terlibat dalam pemblokiran internet dalam hal ini adalah¬†engineer nya. Kebetulan waktu itu¬†engineer untuk internet merupakan laboran (pengajar) pada jurusan saya yaitu Teknik Komputer dan Jaringan. Saya coba diskusi dengan teknik ingin belajar padahal saya hanya ingin mendapatkan informasi bagaimana internet di sekolah ini diblokir.

Setiap bertemu dengan para laboran saya coba diskusi dan kebetulan saat itu (kelas X) saya terpilih untuk belajar materi LKS. Di situ saya paham bahwa teknik pemblokiran yang digunakan adalah proxy menggunakan squid. Dimana kala itu squid hanya bisa memblokir http saja belum https. Dan saat itu memang masih jarang juga tampaknya website yang menggunakan https. Menyadari hal itu saya langsung membuka situs yang dapat terbuka oleh https yaitu facebook dan hasilnya berhasil. Mulai saat itu setiap berselancar untuk mencari materi saya selalu menggunakan situs-situs yang memiliki https.

Situs https tidak banyak dan hanya situs-situs besar saja yang menggunakannya, sedangkan banyak situs atau blog yang menggunakan http memiliki informasi yang lebih bermanfaat. Saya berfikir alangkah nikmatnya jika saya bisa mengakses semua situs untuk belajar atau mengunduh buku-buku dijital.

Berawal dari tantangan yang baru saya coba untuk mempelajari lebih jauh tentang SQUID. Mungkin dengan kemampuan saya saat ini membuka hal tersebut sangatlah mudah tetapi berbeda dengan diri saat itu. Seorang siswa kelas X biasa yang mempelajari IT serba otodidak dari buku-buku bekas. Kala itu saya sempat frustasi dan menyerah sampai akhirnya saya sempat menemukan artikel tentang cara dan kerja dan kelemahan squid ketika digunakan untuk memblokir. Dan jawabannya adalah menggunakan proxy eksternal.

Saya baru paham bahwa setiap saya mengakses internet saya akan diarahkan ke proxy internal milik sekolah maka dari itu saya bisa menggunakan proxy eksternal milik orang lain dan memasukkannya ke komputer saya. Jadi setiap paginya saya membuka situs penyedia proxy eksternal yang menggunakan https (karena http diblokir) untuk mengambil IP & port penyedia agar saya bisa mengakses internet tanpa peduli http atau pun https.

Saya sangat suka berbagi, maka setelah mengetahui cara-caranya saya langsung bagikan ilmu ini ke semua siswa di sekolah. Alasannya? Karena mereka sudah membayar untuk mendapatkan fasilitas ini¬†ūüėā. Saya tidak tahu apakah efek dari siswa telah mengetahui trik mengakses internet atau tidak tapi yang pasti sekolah membuka akses internet untuk semua siswa. Selain itu saya ada juga teman yang menjuluki saya sebagai aktivis internet siswa. Catatan bagi kita semua adalah jika¬†bandwidth¬†internet yang menjadi masalah bukan berarti harus memblokir tetapi bisa dengan cara membatasi.

Related Articles

Close